Sabtu, 01 Oktober 2016

BIOINFORMATIKA : Perkembangan, Disiplin Ilmu dan Penerapannya di Indonesia

BAB I

PENDAHULUAN



1.1. Latar Belakang Sejarah

Penetrasi Teknologi Informasi (TI) dalam berbagai disiplin ilmu telah melipatgandakan perkembangan ilmu bersangkutan. Berbagai kajian baru bermunculan, sejalan  dengan  perkembangan  TI  itu  sendiri  dan  disiplin  ilmu  yang  didukungnya. Aplikasi  TI  dalam  bidang  biologi  molekul  telah  melahirkan  bidang  Bioinformatika. Kajian ini semakin penting, sebab perkembangannya telah mendorong kemajuan bioteknologi  di  satu  sisi,  dan  pada  sisi  lain  memberi  efek  domino  pada  bidang kedokteran, farmasi, lingkungan dan lainnya.
Kajian baru Bioinformatika ini tak lepas dari perkembangan biologi molekul modern yang ditandai dengan kemampuan manusia untuk memahami genom, yaitu cetak biru informasi genetik yang menentukan sifat setiap makhluk hidup yang disandi dalam bentuk pita molekul DNA (asam deoksiribonukleat). Kemampuan untuk memahami dan memanipulasi  kode  genetik  DNA  ini  sangat  didukung  oleh  TI  melalui  perangkat perangkat keras maupun lunak. Hal ini bisa dilihat pada upaya Celera Genomics, perusahaan  bioteknologi  Amerika  Serikat  yang melakukan  pembacaan  sekuen  genom manusia yang secara maksimal memanfaatkan TI sehingga bisa melakukan pekerjaannya dalam waktu yang singkat (hanya beberapa tahun), dibanding usaha konsorsium lembaga riset publik AS, Eropa, dan lain-lain, yang memakan waktu lebih dari 10 tahun.
Kelahiran Bioinformatika modern tak lepas dari perkembangan bioteknologi di era tahun 70-an, dimana seorang ilmuwan AS melakukan inovasi dalam mengembangkan teknologi  DNA  rekombinan.  Berkat  penemuan  ini  lahirlah  perusahaan  bioteknologi pertama di dunia, yaitu Genentech di AS, yang kemudian memproduksi protein hormon insulin dalam bakteri, yang dibutuhkan penderita diabetes. Selama ini insulin hanya bisa didapatkan dalam jumlah sangat terbatas dari organ pankreas sapi.
Bioteknologi modern ditandai dengan kemampuan pada manipulasi DNA. Rantai/sekuen DNA yang mengkode protein disebut gen. Gen ditranskripsikan menjadi mRNA, kemudian mRNA ditranslasikan menjadi protein. Protein sebagai produk akhir bertugas menunjang seluruh proses kehidupan, antara lain sebagai katalis reaksi biokimia dalam tubuh (disebut enzim), berperan serta dalam sistem pertahanan tubuh melawan virus, parasit dan lain-lain (disebut antibodi), menyusun struktur tubuh dari ujung kaki (otot terbentuk dari protein actin, myosin, dan sebagainya) sampai ujung rambut (rambut tersusun dari protein keratin), dan lain-lain. Arus informasi, DNA -> RNA -> Protein, inilah yang disebut sentral dogma dalam biologi molekul.
Sekuen DNA satu organisme, yaitu pada sejenis virus yang memiliki kurang lebih

5.000 nukleotida/molekul DNA atau sekitar 11 gen, berhasil dibaca secara menyeluruh pada tahun 1977. Sekuen seluruh DNA manusia terdiri dari 3 milyar nukleotida yang menyusun 100.000 gen dapat dipetakan dalam waktu 3 tahun. Saat ini terdapat milyaran data nukleotida yang tersimpan dalam database DNA, GenBank di AS yang didirikan tahun  1982.  Di  Indonesia,  ada  Lembaga  Biologi  Molekul  Eijkman  yang  terletak  di Jakarta.  Di  sini  kita  bisa  membaca  sekuen  sekitar  500  nukleotida  hanya  dengan membayar $15. Trend yang sama juga nampak pada database lain seperti database sekuen asam amino penyusun  proteindatabase  struktur 3D protein, dan sebagainya.  Inovasi teknologi DNA chip yang dipelopori oleh perusahaan bioteknologi AS, Affymetrix di Silicon Valley telah mendorong munculnya database baru mengenai RNA.
Desakan kebutuhan untuk mengumpulkan, menyimpan dan menganalisa data-data biologis dari database DNA, RNA maupun protein inilah yang semakin memacu perkembangan kajian Bioinformatika.

1.2. Contoh-contoh Penggunaan


1.2.1. Bioinformatika dalam Bidang Klinis

Bioinformatika dalam bidang klinis sering disebut sebagai informatika klinis (clinical informatics). Aplikasi dari informatika klinis ini berbentuk manajemen data-data klinis dari pasien melalui Electrical Medical Record (EMR) yang dikembangkan oleh Clement  J. McDonald  dari Indiana  University  School  of Medicine  pada tahun  1972. McDonald pertama kali mengaplikasikan EMR pada 33 orang pasien penyakit gula (diabetes).  Sekarang  EMR  ini teladiaplikasikan  pada  berbagai  penyakit.  Datyang disimpan meliputi data analisa diagnosa laboratorium, hasil konsultasi dan saran, foto rontgen,  ukuran  detak  jantung,  dan  lain  lain.  Dengan  data  ini  dokter  akan  bisa menentukan obat yang sesuai dengan kondisi pasien tertentu dan lebih jauh lagi, dengan dibacanya genom manusia, akan memungkinkan untuk mengetahui penyakit genetik seseorang, sehingga penanganan terhadap pasien menjadi lebih akurat.

1.2.2. Bioinformatika untuk Identifikasi Agent Penyakit Baru

Bioinformatika  juga  menyediakan  tool  yang  sangat  penting  untuk  identifikasi agent  penyakit  yang  belum  dikenal  penyebabnya.  Banyak  sekali  penyakit  baryang muncul dalam  dekade  ini, dan diantaranya  yang masih  hangat  adalah SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome).
Pada awalnya, penyakit ini diperkirakan disebabkan oleh virus influenza karena gejalanya mirip dengan gejala pengidap influenza. Akan tetapi ternyata dugaan ini salah karena virus influenza tidak terisolasi dari pasien. Perkirakan lain penyakit ini disebabkan oleh bakteri Candida karena bakteri ini terisolasi dari beberapa pasien. Tapi perkiraan ini juga salah. Akhirnya ditemukan bahwa dari sebagian besar pasien SARS terisolasi virus Corona jika dilihat dari morfologinya. Sekuen genom virus ini kemudian dibaca dan dari hasil analisa dikonfirmasikan  bahwa penyebab SARS adalah virus Corona yang telah berubah (mutasi) dari virus Corona yang ada selama ini.
Dalam rentetan proses ini, Bioinformatika memegang peranan penting. Pertama pada  proses  pembacaan  genom  virus  Corona.  Karena  ddatabase  seperti  GenBank, EMBL (European Molecular Biology Laboratory), dan DDBJ (DNA Data Bank of Japan) sudah tersedia data sekuen beberapa virus Corona, yang bisa digunakan untuk mendisain primer  yang  digunakan  untuk  amplifikasi  DNA  virus  SARS  ini.  Software  untuk mendisain primer juga tersedia, baik yang gratis maupun yang komersial. Contoh yang gratis adalah Webprimer yang disediakan oleh Stanford Genomic Resources (http://genome-www2.stanford.edu/cgi-bin/SGD/web-primer), GeneWalker yang disediakan oleh Cybergene AB (http://www.cybergene.se/primerdisain/genewalker),  dan lain sebagainya. Untuk yang komersial ada Primer Disainer yang dikembangkan oleh Scientific  Education  Software,  dan  software-software  untuk  analisa  DNA  lainnya seperti Sequencher (GeneCodes Corp.), SeqMan II (DNA STAR Inc.), Genetyx (GENETYX Corp.), DNASIS (HITACHI Software), dan lain lainKedua pada proses mencari kemiripan sekuen (homology alignment) virus yang didapatkan dengan virus lainnya. Dari hasil analisa virus SARS diketahui bahwa genom virus Corona penyebab SARS berbeda dengan virus Corona lainnya. Perbedaan ini diketahui   dengan   menggunakan   homology   alignmen dari   sekuen   virus   SARS. Selanjutnya, Bioinformatika juga berfungsi untuk analisa posisi sejauh mana suatu virus berbeda dengan virus lainnya.

1.2.3. Bioinformatika untuk Diagnosa Penyakit Baru

Untuk menangani penyakit baru diperlukan diagnosa yang akurat sehingga dapat dibedakan dengan penyakit lain. Diagnosa yang akurat ini sangat diperlukan untuk pemberian obat dan perawatan yang tepat bagi pasien.
Ada beberapa cara untuk mendiagnosa suatu penyakit, antara lain: isolasi agent penyebab penyakit tersebut dan analisa morfologinya, deteksi antibodi yang dihasilkan dari infeksi dengan teknik enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), dan deteksi gen dari agent pembawa penyakit tersebut dengan Polymerase Chain Reaction (PCR).
Teknik yang banyak dan lazim dipakai saat ini adalah teknik PCR. Teknik ini sederhana, praktis dan cepat. Yang penting dalam teknik PCR adalah disain primer untuk amplifikasi DNA, yang memerlukan data sekuen dari genom agent yang bersangkutan dan software seperti yang telah diuraikan di atas. Disinilah Bioinformatika memainkan peranannya. Untuk agent yang mempunyai genom RNA, harus dilakukan reverse transcription  (proses  sintesa  DNA  dari  RNA)  terlebih  dahulu  dengan  menggunakan enzim reverse transcriptase. Setelah DNA diperoleh baru dilakukan PCR. Reverse transcription dan PCR ini bisa dilakukan sekaligus dan biasanya dinamakan RT-PCR.
Teknik PCR ini bersifat kualitatif, oleh sebab itu sejak beberapa tahun yang lalu dikembangkan teknik lain, yaitu Real Time PCR yang bersifat kuantitatif. Dari hasil Real Time PCR ini bisa ditentukan kuantitas suatu agent di dalam tubuh seseorang, sehingga bisa dievaluasi tingkat emergensinya. Pada Real Time PCR ini selain primer diperlukan probe yang harus didisain sesuai dengan sekuen agent yang bersangkutan. Di sini juga diperlukan software atau program Bioinformatika.





1.2.4. Bioinformatika untuk Penemuan Obat

Cara untuk menemukan obat biasanya dilakukan dengan menemukan zat/senyawa yang dapat menekan perkembangbiakan suatu agent penyebab penyakit. Karena perkembangbiakan  agent tersebut  dipengaruhi  oleh banyak faktor,  maka faktor-faktor inilah yang dijadikan target. Diantaranya adalah enzim-enzim yang diperlukan untuk perkembangbiakan suatu agent Mula-mula yang harus dilakukan adalah analisa struktur dan fungsi enzim-enzim tersebut. Kemudian mencari atau mensintesa zat/senyawa yang dapat menekan fungsi dari enzim-enzim tersebut.
Analisa  struktur  dan fungsi enzim ini dilakukan  dengan cara mengganti  asam amino  tertentu  dan  menguji  efeknya.  Analisa  penggantian  asam  amino  ini  dahulu dilakukan secara random sehingga memerlukan waktu yang lama. Setelah Bioinformatika berkembang, data-data protein yang sudah dianalisa bebas diakses oleh siapapun, baik data sekuen asam amino-nya seperti yang ada di SWISS-PROT (http://www.ebi.ac.uk/swissprot/) maupun struktur 3D-nya yang tersedia di Protein Data Bank (PDB) (http://www.rcsb.org/pdb/). Dengan database yang tersedia ini, enzim yang baru ditemukan dapat dibandingkan sekuen asam amino-nya, sehingga bisa diperkirakan asam amino yang berperan untuk aktivitas (active site) dan kestabilan enzim tersebut.
Setelah  asaamino  yanberperan  sebagai  active  site  dan  kestabilan  enzim tersebut  ditemukan,  kemudian  dicari  atau  disintesa  senyawa  yang  dapat  berinteraksi dengan asam amino tersebut. Dengan data yang ada di PDB, maka dapat dilihat struktur
3D suatu enzim termasuk active site-nya, sehingga bisa diperkirakan bentuk senyawa yanakan  berinteraksi  dengan  active  site  tersebut.  Dengan  demikian,  kita  cukup mensintesa senyawa yang diperkirakan akan berinteraksi, sehingga obat terhadap suatu penyakit  akan  jauh  lebih  cepat  ditemukan.  Cara  ini  dinamakan  docking dan  telah banyak digunakan oleh perusahaan farmasi untuk penemuan obat baru.
Meskipun   dengan   Bioinformatika   ini   dapat   diperkirakan   senyawa   yang berinteraksi dan menekan fungsi suatu enzim, namun hasilnya harus dikonfirmasi dahulu melalui eksperimen di laboratorium. Akan tetapi dengan Bioinformatika, semua proses ini  bisa  dilakukan  lebih  cepat  sehingga  lebih  efisien  baik  dari  segi  waktu  maupun finansial.
Tahun  1997,  Ian  Wilmut  dari  Roslin  Institute  dan  PPL  Therapeutics  Ltd, Edinburgh,  Skotlandia,  berhasil  mengklon  gen manusia yang menghasilkan  faktor IX (faktor pembekuan darah), dan memasukkan ke kromosom biri-biri. Diharapkan biri-biri yang selnya mengandung gen manusia faktor IX akan menghasilkan susu yang mengandung  faktor  pembekuan  darah.  Jika berhasil  diproduksi  dalam jumlah banyak maka faktor IX yang diisolasi dari susu harganya bisa lebih murah untuk membantu para penderita hemofilia.





BAB II

PENGERTIAN DAN CABANG-CABANG ILMU BIOINFORMATIKA


Pada bagian pendahuluan kita telah diberikan gambaran sekilas mengenai perkembangan  dan apa yang dapat diberikan  oleh Bioinformatika.  Bagian berikut ini akan membahas lebih detail tentang Bioinformatika.
Secara umum, Bioinformatika dapat digambarkan sebagai: segala bentuk penggunaan komputer dalam menangani informasi-informasi biologi.
Dalam prakteknya, definisi yang digunakan oleh kebanyakan orang bersifat lebih terperinci. Bioinformatika menurut kebanyakan orang adalah satu sinonim dari komputasi biologi molekul (penggunaan komputer dalam menandai karakterisasi dari komponen- komponen molekul dari makhluk hidup).

2.1. Pengertian Secara Khusus


2.1.1. Bioinformatika "klasik"


Sebagian besar ahli Biologi mengistilahkan mereka sedang melakukan Bioinformatika’   ketika  mereka  sedang  menggunakan  komputer  untuk  menyimpan, melihat atau mengambil data, menganalisa atau memprediksi komposisi atau struktur dari biomolekul.  Ketika  kemampuan  komputer  menjadi  semakin  tinggi  maka proses  yang dilakukan dalam Bioinformatika dapat ditambah dengan melakukan simulasi. Yang termasuk biomolekul diantaranya adalah materi genetik dari manusia --asam nukleat-- dan produk dari gen manusia, yaitu protein. Hal-hal diataslah yang merupakan bahasan utama dari Bioinformatika "klasik", terutama berurusan dengan analisis sekuen (sequence analysis).
Definisi  Bioinformatika  menurut  Fredj  Tekaia  dari  Institut  Pasteur [TEKAIA2004]  adalah:  "metode  matematika,  statistik  dan  komputasi  yang  bertujuan untuk menyelesaikan masalah-masalah biologi dengan menggunakan sekuen DNA dan asam amino dan informasi-informasi yang terkait dengannya."
Dari sudut pandang Matematika, sebagian besar molekul biologi mempunyai sifat yang  menarik,  yaitu  molekul-molekul   tersebut  adalah  polymer;  rantai-rantai  yang tersusun rapi dari modul-modul molekul yang lebih sederhana, yang disebut monomer. Monomer dapat dianalogikan sebagai bagian dari bangunan, dimana meskipun bagian- bagian tersebut berbeda warna dan bentuk, namun semua memiliki ketebalan yang sama dan cara yang sama untuk dihubungkan antara yang satu dengan yang lain.
Monomer yang dapat dikombinasi dalam satu rantai ada dalam satu kelas umum yang sama, namun tiap jenis monomer dalam kelas tersebut mempunyai karakteristik masing-masing yang terdefinisi dengan baik.
Beberapa molekul-molekul monomer dapat digabungkan bersama membentuk sebuah entitas yang berukuran lebih besar, yang disebut macromolecule. Macromolecule dapat mempunyai informasi isi tertentu yang menarik dan sifat-sifat kimia tertentu.
Berdasarkan  skema di atas, monomer-monomer  tertentu dalam macromolecule dari DNA dapat diperlakukan secara komputasi sebagai huruf-huruf dari alfabet, yang diletakkan dalam sebuah aturan yang telah diprogram sebelumnya untuk membawa pesan atau melakukan kerja di dalam sel.
Proses yang diterangkan di atas terjadi pada tingkat molekul di dalam sel. Salah satu   cara   untuk   mempelajari   proses   tersebu selain   dengan   mengamati   dalam laboratorium  biologi yang sangat khusus adalah dengan menggunakan  Bioinformatika sesuai dengan definisi "klasik" yang telah disebutkan di atas.

2.1.2. Bioinformatika "baru"

Salah  satu  pencapaian  besar  dalam  metode  Bioinformatika  adalah  selesainya proyek pemetaan genom manusia (Human Genome Project). Selesainya proyek raksasa tersebut menyebabkan bentuk dan prioritas dari riset dan penerapan Bioinformatika berubah.  Secara  umum  dapat  dikatakan  bahwa  proyek  tersebut  membawa  perubahan besar pada sistem hidup kita, sehingga sering disebutkan --terutama oleh ahli biologi-- bahwa kita saat ini berada di masa pascagenom.
Selesainya proyek pemetaan genom manusia ini membawa beberapa perubahan bagi Bioinformatika, diantaranya:
Setelah memiliki beberapa genom yang utuh maka kita dapat mencari perbedaan dan persamaan di antara gen-gen dari spesies yang berbeda. Dari studi perbandingan antara gen-gen tersebut dapat ditarik kesimpulan tertentu mengenai spesies-spesies dan secara   umu mengena evolusi.   Jenis   caban ilmu   ini   sering   disebut   sebagai perbandingan genom (comparative genomics).
Sekarang ada teknologi yang didisain untuk mengukur jumlah relatif dari kopi/cetakan sebuah pesan genetik (level dari ekspresi genetik) pada beberapa tingkatan yang berbeda pada perkembangan atau penyakit atau pada jaringan yang berbeda. Teknologi tersebut, contohnya seperti DNA microarrays akan semakin penting.
Akibat yang lain, secara langsung, adalah cara dalam skala besar untuk mengidentifikasi fungsi-fungsi dan keterkaitan dari gen (contohnya metode yeast two- hybrid) akan semakin tumbuh secara signifikan dan bersamanya akan mengikuti Bioinformatika   yang   berkaitan   langsung   dengan   kerja   fungsi   genom   (functional genomics).
Akan ada perubahan besar dalam penekanan dari gen itu sendiri ke hasil-hasil dari gen.  Yang  pada  akhirnya  akan  menuntun  ke:  usaha  untuk  mengkatalogkan  semua aktivitas dan karakteristik interaksi antara semua hasil-hasil dari gen (pada manusia) yang disebut proteomics; usaha untuk mengkristalisasi dan memprediksikan struktur-struktur dari semua protein (pada manusia) yang disebut structural genomics.
Apa yang disebut orang sebagai research informatics atau medical informatics, manajemen dari semua data eksperimen biomedik yang berkaitan dengan molekul atau pasien tertentu --mulai dari spektroskop massal, hingga ke efek samping klinis-- akan berubah dari semula hanya merupakan kepentingan bagi mereka yang bekerja di perusahaan obat-obatan dan bagian TI Rumah Sakit akan menjadi jalur utama dari biologi molekul dan biologi sel, dan berubah jalur dari komersial dan klinikal ke arah akademis.
Dari   uraian   di   atas   terliha bahwa   Bioinformatika   sangat   mempengaruhi kehidupan manusia, terutama untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Penggunaan komputer yang notabene merupakan salah satu keahlian utama dari orang yang bergerak dalam TI merupakan salah satu unsur utama dalam Bioinformatika, baik dalam Bioinformatika "klasik" maupun Bioinformatika "baru".





2.2. Cabang-cabang yang Terkait dengan Bioinformatika

Dari pengertian Bioinformatika  baik yang klasik maupun baru, terlihat banyak terdapat  cabang-cabang  disiplin  ilmu  yang  terkait  dengan  Bioinformatika  --terutama karena Bioinformatika itu sendiri merupakan suatu bidang interdisipliner--. Hal tersebut menimbulkan  banyak  pilihan  bagi  orang  yang  ingin  mendalami  Bioinformatika.  Di bawah ini akan disebutkan beberapa bidang yang terkait dengan Bioinformatika.

2.2.1. Biophysics

Biologi  molekul  sendiri  merupakan  pengembangan  yang lahir dari biophysics. Biophysics adalah sebuah bidang interdisipliner yang mengaplikasikan teknik-teknik dari ilmu Fisika untuk memahami struktur dan fungsi biologi (British Biophysical Society).
Sesuai  dengan definisi di atas, bidang ini merupakan  suatu bidang yang luas. Namun   secara   langsung   disiplin   ilmu   ini   terkait   dengan   Bioinformatika   karena penggunaan teknik-teknik dari ilmu Fisika untuk memahami struktur membutuhkan penggunaan TI.

2.2.2. Computational Biology

Computational biology merupakan bagian dari Bioinformatika (dalam arti yang paling luas) yang paling dekat dengan bidang Biologi umum klasik. Fokus dari computational biology adalah gerak evolusi, populasi, dan biologi teoritis daripada biomedis dalam molekul dan sel. Tak dapat dielakkan bahwa Biologi Molekul cukup penting dalam computational biology, namun itu bukanlah inti dari disiplin ilmu ini. Pada penerapan computational biology, model-model statistika untuk fenomena biologi lebih disukai  dipakai  dibandingkan  dengan  model  sebenarnya.  Dalam  beberapa  hal  cara tersebut cukup baik mengingat pada kasus tertentu eksperimen langsung pada fenomena biologi cukup sulit.
Tidak semua dari computational biology merupakan Bioinformatika, seperti contohnya Model Matematika bukan merupakan Bioinformatika, bahkan meskipun dikaitkan dengan masalah biologi.





2.2.3. Medical Informatics

Menurut  Aamir Zakaria  [ZAKARIA2004]  Pengertian  dari  medical  informatics adalah "sebuah disiplin ilmu yang baru yang didefinisikan sebagai pembelajaran, penemuan dan   implementasi   dari   struktu dan   algoritma   untuk   meningkatkan komunikasi, pengertian dan manajemen informasi medis."
Medical   informatic lebih   memperhatikan   struktur   dan   algoritma   untuk pengolahan data medis, dibandingkan dengan data itu sendiri. Disiplin ilmu ini, untuk alasan praktis, kemungkinan besar berkaitan dengan data-data yang didapatkan pada level biologi yang lebih "rumit" --yaitu informasi dari sistem-sistem superselular, tepat pada level  populasi—di  mana  sebagian  besar  dari  Bioinformatika  lebih  memperhatikan informasi dari sistem dan struktur biomolekul dan selular.

2.2.4. Cheminformatics

Cheminformatics adalah kombinasi dari sintesis kimia, penyaringan biologis, dan pendekatan data-mining yang digunakan untuk penemuan dan pengembangan obat (Cambridge Healthech Institute's Sixth Annual Cheminformatics conference). Pengertian disiplin ilmu yang disebutkan di atas lebih merupakan identifikasi dari salah satu aktivitas yang paling populer dibandingkan dengan berbagai bidang studi yang mungkin ada di bawah bidang ini.
Salah satu contoh penemuan obat yang paling sukses sepanjang sejarah adalah penisilin,  dapat  menggambarkan  cara  untuk  menemukan  dan  mengembangkan  obat- obatan hingga sekarang --meskipun terlihat aneh--. Cara untuk menemukan dan mengembangkan obat adalah hasil dari kesempatan, observasi, dan banyak proses kimia yang intensif dan lambat. Sampai beberapa waktu yang lalu, disain obat dianggap harus selalu menggunakan kerja yang intensif, proses uji dan gagal (trial-error process). Kemungkinan penggunaan TI untuk merencanakan secara cerdas dan dengan mengotomatiskan  proses-proses  yang terkait dengan  sintesis  kimiawi  dari komponen- komponen pengobatan merupakan suatu prospek yang sangat menarik bagi ahli kimia dan ahli biokimia. Penghargaan untuk menghasilkan obat yang dapat dipasarkan secara lebih cepat sangatlah besar, sehingga target inilah yang merupakan inti dari cheminformatics.





Ruang  lingkup  akademis  dari cheminformatics  ini sangat luas.  Contoh bidang minatnya  antara  lain:  Synthesis  Planning,  Reaction  and  Structure  Retrieval,  3-D Structure  Retrieval,  Modelling,  Computational  Chemistry,  Visualisation  Tools  and Utilities.

2.2.5. Genomics

Genomics  adalah  bidang  ilmu  yang  ada  sebelum  selesainya  sekuen  genom, kecuali   dalam   bentu yang   palin kasar.   Genomic adalah   setiap   usah untuk menganalisa  atau  membandingkan  seluruh  komplemen  genetik  dari  satu  spesies  atau lebih. Secara logis tentu saja mungkin untuk membandingkan genom-genom dengan membandingkan  kurang lebih suatu himpunan bagian dari gen di dalam genom yang representatif.

2.2.6. Mathematical Biology

Mathematical  biology lebih mudah dibedakan  dengan Bioinformatika  daripada computational biology dengan Bioinformatika. Mathematical biology juga menangani masalah-masalah biologi, namun metode yang digunakan untuk menangani masalah tersebut tidak perlu secara numerik dan tidak perlu diimplementasikan dalam software maupun hardware. Bahkan metode yang dipakai tidak perlu "menyelesaikan" masalah apapun; dalam mathematical  biology bisa dianggap beralasan untuk mempublikasikan sebuah hasil yang hanya menyatakan bahwa suatu masalah biologi berada pada kelas umum tertentu.
Menurut Alex Kasman [KASMAN2004] Secara umum mathematical biology melingkupi semua ketertarikan teoritis yang tidak perlu merupakan sesuatu yang beralgoritma, dan tidak perlu dalam bentuk molekul, dan tidak perlu berguna dalam menganalisis data yang terkumpul.

2.2.7. Proteomics

Istilah proteomics pertama kali digunakan untuk menggambarkan himpunan dari protein-protein yang tersusun (encoded) oleh genom. Ilmu yang mempelajari proteome, yang disebut  proteomics,  pada saat ini tidak hanya  memperhatikan  semua  protein  di dalam  sel  yang  diberikan,  tetapi  juga  himpunan  dari  semua  bentuk  isoform  dan modifikasi  dari semua protein, interaksi diantaranya,  deskripsi struktural dari protein- protein dan kompleks-kompleks orde tingkat tinggi dari protein, dan mengenai masalah tersebut hampir semua pasca genom.
Michael  J.  Dunn  [DUNN2004],  Pemimpin  Redaksi  dari  Proteomics mendefiniskan kata "proteome" sebagai: "The PROTEin complement of the genOME". Dan mendefinisikan proteomics berkaitan dengan: "studi kuantitatif dan kualitatif dari ekspresi  gen  di  level  dari  protein-protein  fungsional  itu  sendiri".  Yaitu:  "sebuah antarmuka antara biokimia protein dengan biologi molekul".
Mengkarakterisasi sebanyak puluhan ribu protein-protein yang dinyatakan dalam sebuah  tipe  sel  yang  diberikan  pada  waktu  tertentu  --apakah  untuk  mengukur  berat molekul atau nilai-nilai isoelektrik protein-protein tersebut-- melibatkan tempat penyimpanan dan perbandingan dari data yang memiliki jumlah yang sangat besar, tak terhindarkan lagi akan memerlukan Bioinformatika.

2.2.8. Pharmacogenomics

Pharmacogenomics adalah aplikasi dari pendekatan genomik dan teknologi pada identifikasi dari target-target obat. Contohnya meliputi menjaring semua genom untuk penerima yang potensial dengan menggunakan cara Bioinformatika, atau dengan menyelidiki bentuk pola dari ekspresi gen di dalam baik patogen maupun induk selama terjadinya infeksi, atau maupun dengan memeriksa karakteristik pola-pola ekspresi yang ditemukan   dalam   tumor   atau   contoh   dari   pasien   untuk   kepentingan   diagnosa (kemungkinan untuk mengejar target potensial terapi kanker).
Istilah pharmacogenomics digunakan lebih untuk urusan yang lebih "trivial" -- tetapi dapat diargumentasikan lebih berguna-- dari aplikasi pendekatan Bioinformatika pada pengkatalogan dan pemrosesan informasi yang berkaitan dengan ilmu Farmasi dan Genetika, untuk contohnya adalah pengumpulan informasi pasien dalam database.

2.2.9. Pharmacogenetics

Tiap individu mempunyai respon yang berbeda-beda terhadap berbagai pengaruh obat; sebagian ada yang positif, sebagian ada yang sedikit perubahan yang tampak pada kondisi  mereka  dan  ada  juga  yang  mendapatkan  efek  samping  atau  reaksi  alergi. Sebagian dari reaksi-reaksi ini diketahui mempunyai dasar genetik. Pharmacogenetics adalah  bagian  dari  pharmacogenomics  yang  menggunakan  metode genomik/Bioinformatika  untuk  mengidentifikasi  hubungan-hubungan  genomik, contohnya  SNP  (Single  Nucleotide  Polymorphisms),  karakteristik  dari  profil  respons pasien tertentu dan menggunakan informasi-informasi tersebut untuk memberitahu administrasi dan pengembangan terapi pengobatan. Secara menakjubkan pendekatan tersebut telah digunakan untuk "menghidupkan kembali" obat-obatan yang sebelumnya dianggap  tidak  efektif,  namun  ternyata  diketahui  manjur  pada  sekelompok  pasien tertentu.  Disiplin ilmu ini juga dapat digunakan untuk mengoptimalkan dosis kemoterapi pada pasien-pasien tertentu.
Gambaran  dari sebagian  bidang-bidang  yang terkait  dengan  Bioinformatika  di atas memperlihatkan bahwa Bioinformatika mempunyai ruang lingkup yang sangat luas dan  mempunyai  peran  yang  sangat  besar  dalam  bidangnya.  Bahkan  pada  bidang pelayanan kesehatan Bioinformatika menimbulkan disiplin ilmu baru yang menyebabkan peningkatan pelayanan kesehatan.





BAB III

TEKNOLOGI DAN PENERAPAN BIOINFORMATIKA



3.1. Program-program Bioinformatika

Sehari-harinya bionformatika dikerjakan dengan menggunakan program pencari sekuen (sequence search) seperti BLAST, program analisa sekuen (sequence analysis) seperti EMBOSS dan paket Staden, program prediksi struktur seperti THREADER atau PHD atau program imaging/modelling seperti RasMol dan WHATIF.
Contoh-contoh di atas memperlihatkan bahwa telah banyak program pendukung yang mudah di akses dan dipelajari untuk menggunakan Bioinformatika

3.2. Teknologi Bioinformatika Secara Umum

Pada  saaini  banyak  pekerjaan  Bioinformatika  berkaitan  dengan  teknologi database. Penggunaan database ini meliputi baik tempat penyimpanan database "umum" seperti GenBank atau PDB maupun database "pribadi", seperti yang digunakan oleh grup riset  yang  terlibat  dalam  proyek  pemetaan  gen  atau  database  yang  dimiliki  oleh perusahaan-perusahaan bioteknologi. Konsumen dari data Bioinformatika menggunakan platform jenis komputer dalam kisaran: mulai dari mesin UNIX yang lebih canggih dan kuat yang dimiliki oleh pengembang dan kolektor hingga ke mesin Mac yang lebih bersahabat yang sering ditemukan menempati laboratorium ahli biologi yang tidak suka komputer.
Database dari sekuen data yang ada dapat digunakan untuk mengidentifikasi homolog pada molekul baru yang telah dikuatkan dan disekuenkan di laboratorium. Dari satu nenek  moyang  mempunyai  sifat-sifat  yang sama,  atau homology,  dapat menjadi indikator yang sangat kuat di dalam Bioinformatika.
Setelah informasi dari database diperoleh, langkah berikutnya adalah menganalisa data.  Pencarian  database  umumnya  berdasarkan  pada  hasil  alignment  /  pensejajaran sekuen, baik sekuen DNA maupun protein. Kegunaan dari pencarian ini adalah ketika mendapatkan suatu sekuen DNA/protein yang belum diketahui fungsinya maka dengan membandingkanny dengan   yang   ada   dalam   database   bisa   diperkirakan   fungsi daripadanya. Salah satu perangkat lunak pencari database yang paling berhasil dan bisa dikatakan menjadi standar sekarang adalah BLAST (Basic Local Alignment Search Tool) yang  merupakan  program  pencarian  kesamaan  yang  didisain  untuk  mengeksplorasi semua  database  sekuen  yang  diminta,  baik  itu  berupa  DNA  atau  protein.  Program BLAST juga dapat digunakan untuk mendeteksi hubungan di antara sekuen yang hanya berbagi daerah tertentu yang memiliki kesamaan. Di bawah ini diberikan contoh beberapa alamat situs yang berguna untuk bidang biologi molekul dan genetika:


Deskripsi
Alamat


National Center for

Biotechnology Information


GenBank (NIH Genetic Sequence

Database)


European Molecular Biology

Laboratory Nucleotide Sequence Protein Information Resource Protein Data Bank
Restriction Enzyme Database


National Center for Genome

Research (NCGR) GeneMark
Biotechnology Industry

Organization (BIO)









Data yang memerlukan analisa Bioinformatika dan mendapat banyak perhatian saat ini adalah data hasil DNA chip. Dengan perangkat ini dapat diketahui kuantitas dan kualitas  transkripsi  satu gen sehingga  bisa menunjukkan  gen-gen  apa saja yang aktif terhadap perlakuan tertentu, misalnya timbulnya kanker, dan lain-lain.





BAB IV

KONDISI DAN PENERAPAN BIOINFORMATIKA DI INDONESIA


4.1. Kondisi Bioinformatika di Indonesia

Di Indonesia, Bioinformatika masih belum dikenal oleh masyarakat luas. Hal ini dapat dimaklumi karena penggunaan komputer sebagai alat bantu belum merupakan budaya.  Bahkan  dkalangan  peneliti  sendiri,  barangkali  hanya  para  peneliti  biologi molekul  yang  sedikit  banyak  mengikuti  perkembangannya  karena  keharusan menggunakan perangkat-perangkat Bioinformatika untuk analisa data. Sementara di kalangan TI masih kurang mendapat perhatian.
Ketersediaan   database   dasar   (DNA,   protein)   yang   bersifat   terbuka/gratis merupakan  peluang  besar  untuk  menggali  informasi  berharga  daripadanya.  Database genom manusia sudah disepakati akan bersifat terbuka untuk seluruh kalangan, sehingga dapat digali/diketahui kandidat-kandidat gen yang memiliki potensi kedokteran/farmasi. Dari sinilah Indonesia dapat ikut berperan mengembangkan Bioinformatika. Kerjasama antara peneliti bioteknologi yang memahami makna biologis data tersebut dengan praktisi TI seperti programmer, dan sebagainya akan sangat berperan dalam kemajuan Bioinformatika Indonesia nantinya.

4.2. Penerapan Bioinformatika di Indonesia

Sebagai kajian yang masih baru, Indonesia seharusnya berperan aktif dalam mengembangkan Bioinformatika ini.  Paling tidak, sebagai tempat tinggal lebih dari 300 suku bangsa yang berbeda akan menjadi sumber genom, karena besarnya variasi genetiknya.  Belum lagi  variasi species flora maupun fauna yang berlimpah.
Memang ada sejumlah pakar yang telah mengikuti perkembangan Bioinformatika ini, misalnypara peneliti  dalam Lembaga  Biologi  Molekul  Eijkman.  Mereka  cukup berperan aktif dalam memanfaatkan kajian Bioinformatika.  Bahkan, lembaga ini telah memberikan beberapa sumbangan cukup berarti, antara lain:





4.2.1. Deteksi Kelainan Janin

Lembaga  Biologi Molekul Eijkman  bekerja sama dengan Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo sejak November 2001 mengembangkan klinik genetik untuk mendeteksi secara dini sejumlah penyakit genetik yang menimbulkan gangguan pertumbuhan fisik maupun retardasi mental seperti antara lain, talasemia dan sindroma down. Kelainan ini bisa diperiksa sejak janin masih berusia beberapa minggu.
Talasemia adalah penyakit keturunan di mana tubuh kekurangan salah satu zat pembentuk hemoglobin (Hb) sehingga mengalami anemia berat dan perlu transfusi darah seumur hidup. Sedangkan sindroma down adalah kelebihan jumlah untaian di kromosom
21 sehingga anak tumbuh dengan retardasi mental, kelainan jantung, pendengaran dan penglihatan  buruk,  otot lemah  serta  kecenderungan  menderita  kanker  sel darah  putih (leukemia).
Dengan mengetahui sejak dini, pasangan yang hendak menikah, atau pasangan yang salah satunya membawa kelainan kromosom, atau pasangan yang mempunyai anak yang  menderita  kelainan  kromosom,  atau  penderita  kelainan  kromosom  yang  sedang hamil,  atau  ibu  yang  hamil  di  usia  tua  bisa  memeriksakan  diri  dan  janin  untuk memastikan apakah janin yang dikandung akan menderita kelainan kromosom atau tidak, sehingga mempunyai kesempatan untuk mempertimbangkan apakah kehamilan akan diteruskan atau tidak setelah mendapat konseling genetik tentang berbagai kemungkinan yang akan terjadi.
Di bidang talasemia, Eijkman telah memiliki katalog 20 mutasi yang mendasari talasemia beta di Indonesia, 10 di antaranya sering terjadi. Lembaga ini juga mempunyai informasi  cukup  mengenai  spektrum  mutasi  di  berbagai  suku  bangsa  yang  sangat bervariasi. Talasemia merupakan penyakit genetik terbanyak di dunia termasuk di Indonesia.

4.2.2. Pengembangan Vaksin Hepatitis B Rekombinan

Lembaga Biologi Molekul Eijkman bekerja sama dengan PT Bio Farma (BUMN Departemen Kesehatan yang memproduksi vaksin) sejak tahun 1999 mengembangkan vaksin Hepatitis B rekombinan, yaitu vaksin yang dibuat lewat rekayasa genetika. Selain itu  Lembaga  Eijkman  juga  bekerja  sama  dengan  PT  Diagnosia  Dipobiotek  untuk mengembangkan kit diagnostik.

4.2.3. Meringankan Kelumpuhan dengan Rekayasa RNA

Kasus kelumpuhan distrofi (Duchenne Muscular Dystrophy) yang menurun kini dapat dikurangi tingkat keparahannya dengan terapi gen. Kelumpuhan ini akibat ketidaknormalan gen distrofin pada kromosom X sehingga hanya diderita anak laki-laki. Diperkirakan satu dari 3.500 pria di dunia mengalami kelainan ini.
Dengan  memperbaiki  susunan  ekson atau bagian  penyusun  RNA gen tersebut pada hewan percobaan tikus, terbukti mengurangi tingkat kelumpuhan saat pertumbuhannya menjadi dewasa.
Gen distrofin pada kasus kelumpuhan paling sering disebabkan oleh delesi atau hilangnya beberapa ekson pada gen tersebut. Normalnya pada gen atau DNA distrofin terdapat  7ekson.  Diperkirakan  65  persen  pasien  penderita  DMD  mengalami  delesi dalam jumlah besar dalam gen distrofinnya.  Kasus kelumpuhan ini dimulai pada otot prosima seperti pangkal paha dan betis. Dengan bertambahnya usia kelumpuhan akan meluas pada bagian otot lainnya hingga ke leher. Karena itu dalam kasus kelumpuhan yang berlanjut dapat berakibat kematian.
Teknologi  rekayasa  RNA  seperti  proses  penyambungan  (slicing)  ekson  dalam satu rangkaian terbukti dapat mengoreksi mutasi DMD. Bila bagian ekson yang masih ada  disambung  atau  disusun  ulang,  terjadi  perubahan  asam  amino  yang  membentuk protein. Molekul RNA mampu mengenali molekul RNA lainnya dan melekat dengannya.





BAB V

KESIMPULAN


Bioinformatika  adalah  teknologi  pengumpulan,  penyimpanan,  analisis, interpretasi,  penyebaran  dan aplikasi dari data-data biologi molekul.  Perangkat  utama Bioinformatika adalah software dan didukung oleh kesediaan internet dan server World Wide Web (WWW).
Dengan Bioinformatika, data-data yang dihasilkan dari proyek genom dapat disimpan dengan teratur dalam waktu yang singkat dengan tingkat akurasi yang tinggi serta sekaligus  dianalisa  dengan  program-program  yang  dibuat  untuk  tujuan  tertentu. Sebaliknya Bioinformatika juga mempercepat penyelesaian proyek genom karena Bioinformatika memberikan program-program yang diperlukan untuk proses pembacaan genom ini.
Dalam dunia kedokteran, keberhasilan proyek genom ini membuka kemungkinan luas  untuk  menangani  berbagai  penyakit  genetik  serta  memprediksi  resiko  terkena penyakit genetik. Juga dapat digunakan untuk mengetahui respon tubuh terhadap obat sehingga efektivitas pengobatan bisa ditingkatkan.
Karena Bioinformatika merupakan suatu bidang interdisipliner, maka Bioinformatika juga tidak bisa berdiri sendiri dan harus didukung oleh disiplin ilmu lain yang mengakibatkan saling bantu dan saling menunjang sehingga bermanfaat untuk kepentingan manusia. Bidang yang terkait dengan Bioinformatika diantaranya adalah Biophysics, Computational Biology, Medical Informatics, CheminformaticsGenomics, Mathematical Biology, Proteomics, Pharmacogenomics.
Meskipun  merupakan  kajian  yang  masih  baru,  Indonesia  telah  berperan  aktif dalam mengembangkan Bioinformatika ini.   Ada sejumlah pakar yang telah mengikuti perkembangan Bioinformatika ini, antara lain para peneliti dalam Lembaga Biologi Molekul Eijkman.


REFERENSI



[UTAMA2003] Utama, Andi (2003), Peranan Bioinformatika dalam Dunia Kedokteran, http://ikc.vlsm.org/populer/andi-bioinformatika.php per 1 Januari 2004.

[WITARTO2003] Witarto, Arief B. (2003), BIOINFORMATIKA: Mengawinkan

Teknologi Informasi dengan Bioteknologi. Trendnya di Dunia dan Prospeknya di

Indonesia


                          (2003) Modul Pelatihan Bioteknologi, Unit Penelitian Bioteknologi Perkebunan, Konsorsium Bioteknologi Indonesia, Wageningen University and Research Center, dan Stoas-Belanda.

[BIOINFORMATICS2004] BioInformatics.org: The Open-Access Institute, http://bioinformatics.org per 20 Januari 2004
[KOMPAS2004] Kompas Cyber Media,  http://www.kompas.com per 15 Januari 2004 [BIOTEK2004] Situs Biotek-Indonesia,  http://www.biotek-indonesia.net per 20 Januari
2004
[TEKAIA2004] Situs Institut Pasteur,  http://www.pasteur.fr/externe per 20 Januari 2004 [ZAKARIA2004] Medical Informatics FAQ,  http://www.faqs.org/faqs/medical-

informatics-faq/ per 20 Januari 2004


[KASMAN2004] Situs Alex Kasman di College of Charleston, http://math.cofc.edu/faculty/kasman/ per 20 Januari 2004


[DUNN2004] Majalah Proteonomics, http://www.wiley.co.uk/wileychi/genomics/proteomics.html  per 20 Januari 2004

ftp://ftp.gunadarma.ac.id/pub/linux/docs/v06/Kuliah/SistemOperasi/2003/50/Bioinformatika.pdf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar