Stratifikasi Sosial
Stratifikasi sosial merupakan
pembedaan anggota masyarakat berdasarkan status (Susanto, 1993). Definisi yang
lebih spesifik mengenai stratifikasi sosial antara lain dikemukakan oleh
Sorokin (1959) dalam Soekanto (1990) bahwa pelapisan sosial merupakan pembedaan
penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis).
Perwujudannya adalah adanya kelas tinggi dan kelas rendah. Sedangkan dasar dan
inti lapisan masyarakat itu adalah tidak adanya keseimbangan atau ketidaksamaan
dalam pembagian hak, kewajiban, tanggung jawab, nilai-nilai sosial, dan
pengaruhnya di antara anggota-anggota masyarakat.
Teori Pembentukan Pelapisan Sosial
Diferensiasi dan ketidaksamaan sosial
mempunyai potensi untuk menimbulkan stratifikasi sosial dalam masyarakat.
Diferensiasi sosial merupakan pengelompokan masyarakat secara horizontal
berdasarkan pada ciri-ciri tertentu. Berbeda dengan ketidaksamaan sosial yang
lebih menekankan pada kemampuan untuk mengakses sumberdaya, diferensiasi lebih
menekankan pada kedudukan dan peranan.
Stratifikasi sosial dapat terjadi sejalan dengan
proses pertumbuhan atau dibentuk secara sengaja dibuat untuk mencapai tujuan
bersama. Seperti apa yang dikemukakan Karl Marx yaitu karena adanya pembagian
kerja dalam masyarakat, konflik sosial, dan hak kepemilikan.
Pembagian Kerja
Jika dalam sebuah masyarakat terd`pat
pembagian kerja, maka akan terjadi ketergantungan antar individu yang satu
dengan yang lain. Seorang yang sukses dalam mengumpulkan semua sumber daya yang
ada dan berhasil dalam kedudukannya dalam sebuah masyarakat akan semakin banyak
yang akan diraihnya. Sedangkan yang bernasib buruk berada di posisi yang amat
tidak menguntungkan. Semua itu adalah penyebab terjadinya stratifikasi sosial
yang berawal dari ketidaksamaan dalam kekuasaan dalam mengakses sumber daya.
Menurut Bierstedt (1970) pembagian kerja adalah
fungsi dari ukuran masyarakat:
a) Merupakan
syarat perlu terbentuknya kelas.
b) Menghasilkan
ragam posisi dan peranan yang membawa pada ketidaksamaan sosial yang berakhir
pada stratifikasi sosial.
Konflik Sosial
Konflik sosial di sini dianggap
sebagai suatu usaha oleh pelaku-pelaku untuk memperebutkan sesuatu yang
dianggap langka dan berharga dalam masyarakat. Pemenangnya adalah yang
mendapatkan kekuasaan yang lebih dibanding yang lain. Dari sinilah stratifikasi
sosial lahir. Hal ini terjadi karena terdapat perbedaan dalam pengaksesan suatu
kekuasaan.
Hak Kepemilikan
Hak kepemilikan adalah lanjutan dari
konflik sosial yang terjadi karena kelangkaan pada sumber daya. Maka yang
memenangkan konflik sosial akan mendapat akses dan kontrol lebih lebih dan
terjadi kelangkaan pada hak kepemilikan terhadap sumber daya tersebut.
Setelah semua akses yang ada mereka dapatkan,
maka mereka akan mendapatkan kesempatan hidup (life change) dari yang lain.
Lalu, mereka akan memiliki gaya hidup (life style) yang berbeda dari yang lain
serta menunjukannya dalam simbol-simbol sosial tertentu.
Dasar Pelapisan Sosial
Ukuran atau kriteria yang biasa
dipakai untuk menggolong-golongkan anggota masyarakat ke dalam suatu lapisan.
(Calhoun dalam Soekanto, 1990) adalah sebagai berikut :
1) Ukuran
kekayaan, barang siapa yang memiliki kekayaan paling banyak, termasuk dalam
lapisan teratas. Kekayaan tersebut, misalnya : rumah, kerbau, sawah, dan tanah.
2) Ukuran
kekuasaan, barang siapa yang memiliki kekuasaan atau yang mempunyai wewenang
terbesar menempati lapisan atas. Contoh: Pak Kades, Pak Carik, Tokoh masyarakat
(Tomas).
3) Ukuran
kehormatan, orang yang paling disegani dan dihormati, mendapat tempat yang
teratas. Ukuran semacam ini banyak dijumpai pada maysarakat tradisional.
Biasanya mereka adalah golongan tua atau mereka yang pernah berjasa.
4) Ukuran
pengetahuan, pengetahuan sebagai ukuran, dipakai oleh masyarakat yang
menghargai ilmu pengetahuan. Barang siapa yang berilmu maka dianggap sebagai
orang pintar.
Sifat
Sistem Pelapisan Masyarakat
Sifat sistem pelapisan di dalam suatu masyarakat
menurut Soekanto (1990) dapat bersifat tertutup (closed social stratification)
dan terbuka (open social stratification). Sistem tertutup membatasi kemungkinan
pindahnya seseorang dalam suatu lapisan ke lapisan yang lain, baik yang
merupakan gerak ke atas maupun ke bawah. Di dalam sistem yang demikian,
satu-satunya jalan untuk menjadi anggota suatu lapisan dalam masyarakat adalah
kelahiran (mobilitas yang demikian sangat terbatas atau bahkan mungkin tidak
ada). Contoh masyarakat dengan sistem stratifikasi sosial tertutup adalah
masyarakat berkasta, sebagian masyarakat feodal atau masyarakat yang dasar
stratifikasinya tergantung pada perbedaan rasial.
Sistem terbuka, masyarakat di dalamnya memiliki
kesempatan untuk berusaha dengan kecakapan sendiri untuk naik lapisan, atau
bagi mereka yang tidak beruntung, untuk jatuh dari lapisan yang atas ke lapisan
yang di bawahnya (kemungkinan mobilitas sangat besar). Contohnya adalah dalam
masyarakat demokratis.
Unsur-Unsur Lapisan Masyarakat
Hal yang mewujudkan unsur dalam teori sosiologi
tentang sistem lapisan masyarakat menurut Soekanto (1990) adalah kedudukan
(status) dan peranan (role).
Kedudukan (status) diartikan sebagai tempat atau
posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Kedudukan sosial artinya tempat
seseorang secara umum dalam masyarakatnya sehubungan dengan orang lain, dalam
arti lingkungan pergaulannya, prestise-nya, dan hak-hak serta kewajibannya.
Masyarakat pada umumnya mengembangkan dua macam
kedudukan, yaitu :
1)
Ascribed-status, yaitu kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memperhatikan
perbedaan-perbedaan rohaniah dan kemampuan. Pada umumnya ascribed status
dijumpai pada masyarakat dengan sistem lapisan yang tertutup, misalnya
masyarakat feodal (bangsawan, kasta)
2)
Achieved-status, yaitu kedudukan yang dicapai oleh seseorang dengan usaha-usaha
yang disengaja. Kedudukan ini bersifat terbuka bagi siapa saja, tergantung dari
kemampuan masing-masing dalam mengejar serta mencapai tujuan-tujuannya.
Misalnya, setiap orang dapat menjadi hakim asalkan memenuhi persyaratan
tertentu. Kadang-kadang dibedakan lagi satu macam kedudukan, yaitu Assigned
status yang merupakan kedudukan yang diberikan. Assigned status sering memiliki
hubungan erat dengan achieved stastus.
Peranan (role) merupakan aspek dinamis
kedudukan. Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan
kedudukannya, maka dia menjalankan suatu peranan. Peranan melekat pada diri
seseorang harus dibedakan dengan posisi dalam pergaulan kemasyarakatan. Posisi
seseorang dalam masyarakat merupakan unsur statis yang menunjukkan tempat
individu pada organisasi masyarakat.
Mobilitas
Sosial
Soekanto (1990) mendefinisikan gerak sosial
sebagai suatu gerak dalam struktur sosial yaitu pola-pola tertentu yang
mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Sorokin (1959) dalam Soekanto (1990)
menyebutkan ada dua gerak sosial yang mendasar yaitu; pertama, gerak sosial
horisontal yaitu peralihan status individu atau kelompok dari suatu kelompok
sosial lainnya yang sederajat. Misalnya seorang petani kecil beralih menjadi
pedagang kecil. Status sosial tetap sama dan relatif bersifat stabil. Kedua,
gerak sosial vertikal yaitu peralihan individu atau kelompok dari suatu
kedudukan sosial ke kedudukan lainnya yang tidak sederajat.
Sorokin (1959) dalam Soekanto (1990) menyebutkan
bahwa sesuai dengan arahnya gerak sosial vertikal secara khusus dapat dibedakan
menjadi dua yaitu:
1) Gerak sosial
vertikal naik (sosial climbing(, berupa: masuknya individu-individu yang
mempunyai kedudukan rendah ke dalam kedudukan yang lebih tinggi yang telah ada
sebelumnya atau pembentukan suatu kelompok baru yang kemudian ditempatkan pada
derajat yang lebih tinggi dari kedudukan individu-individu pembentuk kelompok
itu.
2) Gerak sosial
vertikal turun (sosial sinking), berupa: turunnya kedudukan individu ke
kedudukan yang lebih rendah derajatnya atau turunnya derajat sekelompok
individu yang dapat berupa suatu disintegrasi dalam kelompok sebagai kesatuan.
Menurut Sorokin (1959) dalam Soekanto (1990)
mobilitas sosial vertikal mempunyai saluran-salurannya dalam masyarakat. Proses
mobilitas sosial vertikal yang melalui saluran tertentu dinamakan sirkulasi sosial.
Saluran yang terpenting di antaranya adalah angkatan bersenjata, lembaga
keagamaan (menaikkan kedudukan oarang-orang dari lapisan rendah), sekolah
(menjadi saluran gerak sosial vertikal bagi orang-orang dari lapisan rendah
yang berhasil masuk dari sekolah untuk orang-orang lapisan atas), organisasi
politik, ekonomi, keahlian, dan perkawinan.
Contoh Studi Lapang di
Kampung Cikadongdong, Desa Situ Udik, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor,
Jawa Barat
Infrakstruktur
Gambaran Umum Kampung Cikadongdong
Kampung Cikadongdong merupakan bagian dari Desa
Situ Udik, Kecamatan Cibungbulang, Bogor. Kampung ini secara teretorial berada
pada wilayah Dusun II, RW. 9, Kampung Cikadongdong terdiri dari 2 RT.
Berpenduduk 47 KK, dengan jumlah penduduk sekitar ± 473 jiwa. Adapun
batas-batas Kampung Cikadongdong:
1) Utara : Kampung
Batu Beulah
2) Selatan :
Kampung Cigamea
3) Timur : Kampung
Cimanggu
4) Barat : Kali
Cianten
Mata Pencaharian Masyarakat Kampung Cikadongdong
Sebagian besar masyarakat kampung Cikadongdong
bekerja sebagai buruh serabutan dan penggarap sawah, hal ini disebabkan karena
kurangnya lahan persawahan yang berada di Kampung Cikadongdong sehingga
mayoritas dari mereka memilih untuk bekerja sebagai buruh serabutan di beberapa
daerah di luar Kampung Cikadongdong. Namun, ada juga yang bekerja sebagai
peternak kambing, pengrajin kusen, tukang ojek, kuli bangunan, pedagang.
Sarana dan Prasarana Kampung Cikadongdong
Kampung Cikadongdong merupakan bagian kecil dari
Desa Situ Udik, sehingga untuk sarana dan prasarana yang tersedia di kampung
ini tidaklah begitu lengkap, namun tetap ada. Sarana dan prasarana yang
tersedia di kampung Cikadongdong di antaranya terdapat masjid, lapangan sepak
bola, pos ronda, dan sarana irigasi. Sebagian besar masyarakat Kampung
Cikadongdong telah memiliki media informasi elektronik sendiri, seperti
televisi, VCD, dan radio.
Suprastruktur
Sejarah Kampung
Nama Kampung Cikadongdong menurut persepsi mitos
masyarakat setempat, dikarenakan pada zaman dahulu tedapat sebuah pohon
kedondong besar yang tumbuh di dalam wilayah kampung tersebut, sehingga
masyarakat memberi nama kampung tersebut Kampung Cikadongdong. Pada mulanya
Kampung Cikadongdong hanya ditinggali oleh empat kdpala keluarga. Mereka adalah
keluarga Bapak Oyot Traimah, keluarga Bapak Jaison, keluarga Bapak Salihin, dan
keluarga Bapak Satian. Dari keempat KK inilah kemudian terjadi sebuah
regenerasi aktif yang hingga kini mencapai 47 KK.
Karateristik Masyarakat
Mayoritas masyarakat Kampung Cikadongdong
merupakan warga asli daerah Desa Situ Udik, sehingga tingkat kekerabatan di
antara mereka masih sangat tinggi (genealogis), misalnya saja dapat kita lihat
dari persebaran bangunan perumahan yang pada umumnya rumah-rumah yang
bersebelahan adalah masih mempunyai hubungan secara keluarga. Sebagai contoh,
Pak Mukhlis yang menjabat sebagai Ketua RT rumahnya berdekatan dengan rumah
ibunya dan empat saudaranya yang saling bersebelahan satu sama lain. Masyarakat
Kampung Cikadongdong sangat memegang teguh prinsip gotong-royong dan musyawarah
untuk mufakat dalam kehidupan sehari-harinya, hal ini terlihat ketika akan
memperbaiki Marjid Darrusalaam. Sebelum memulai pekerjaan mereka bermusyawarah
untuk membahas pembelian material dan kemudian dalam melakukan perbaikan pun
dikerjakan secara gotong royong oleh masyarakat setempat.
Secara garis besar, mayoritas kehidupan
masyarakat di kampung ini dilandasi oleh nilai-nilai religius yang kuat. Hal
ini dibuktikan seluruh masyarakat Kampung Cikadongdong menganut agama yang sama
yaitu Islam. Kegiatan majelis ta’lim dan pengajian selalu diadakan rutin
mingguan, dengan seorang kyai yang memimpin kegiatan tersebut.
Rata-rata pendidikan masyarakat Kampung
Cikadongdong hanya sampai jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) saja, namun ada
juga lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menenah Atas (SMA) yang
jumlahnya sedikit dan jarang. Hal ini umumnya disebabkan faktor ekonomi
keluarga yang tidak mendukung untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih
tinggi, karena faktor keterbatasan biaya sekolah. Sebagian besar masyarakat
Kampung Cikadongdong bermata pencaharian sebagai buruh tani, karena hanya
sebagian kecil saja m`syarakat Kampung Cikadongdong yang memiliki sawah
sendiri.
Pelapisan
Masyarakat
Pelapisan masyarakat di Kampung Cikadongdong
merupakan pelapisan sosial terbuka yang memberikan peluang pada warganya untuk
mengadakan gerak perubahan di dalam pelapisan sosial, sehingga
individu-individu dalam sistem sosial kemasyarakatan mempunyai peluang untuk
melakukan mobilisasi sosial/ gerak sosial. Pelapisan sosial tersebut didasarkan
oleh tingkat pengetahuan, kehormatan, kekuasaan, dan kekayaan yang dimiliki
oleh individu dalam masyarakat, dimana biasanya individu tersebut mempunyai
akses terhadap sumber daya.
Dari empat dasar tersebut yang paling dominan di
Kampung Cikadongdong adalah dasar pengetahuan; yaitu pengetahuan religius
tentang Agama Islam. Secara faktual di lapangan, memang pembedaan dan
ketidaksamaan sudah terjadi secara otomatis dalam hal yang bertalian dengan
umur dan jenis kelamin (sex) yang merupakan pembedaan yang melekat semenjak
mereka lahir, cara pembedaan ini merupakan sebuah bentuk konsekuensi logis dari
adanya pembedaan di atas yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Kedekatan tempat
tinggal (dalam hal ini hubungannya dengan akses) turut menjadi faktor penentu
”kemudahan” hidup sesorang. Barang siapa yang rumahnya berdekatan dengan rumah
Pak RT, tokoh masyarakat, “elite lokal”, tentunya akses informasi (komunikasi)
menjadi mudah, misalnya ketika pemberian bantuan subsidi tunai (BLT dari
penarikan subsidi BBM), orang-orang yang bertempat tinggal di sebelah Pak RT
tentunya akan mengetahui lebih cepat daripada orang-orang yang bertempat
tinggal jauh dari rumah Pak RT.
Diferensiasi dan Ketidaksamaan Sosial
Diferensiasi dan ketidaksamaan sosial merupakan
hal pokok yang pasti ada ketika kita membahas stratifikasi sosial. Ketika ada
pembedaan dan ketidaksamaan dalam masyarakat, pandangan Marxist menyatakan
tentunya menyebabkan masyarakat tersebut menjadi
berkelas-kelas/bertingkat-tingkat, sehingga muncul pelapisan-pelapisan dalam
masyarakat. Ada yang berada pada golongan atas, menengah dan bawah, yang
mempunyai kemampuan untuk mengakses “sumber daya” berbeda-beda, dimana kelas
lapisan atas lebih mendominasi daripada kelas menengah atau bahkan kelas bawah.
Ada kecenderungan golongan bawah untuk berusaha naik menggantikan kedudukan
golongan atas dan golongan atas juga berusaha mempertahankan posisinya bahkan
lebih meningkatkan lagi, akan tetapi tidak menutup kemungkinan bagi lapisan
golongan atas untuk turun menjadi golongan menengah bahkan golongan bawah
dengan beberapa faktor yang dapat menyebabkan semua ini terjadi. Adapun yang
kami temukan di Kampung Cikadongdong, diferensiasi dan ketidaksamaan sosial mengacu
pada:
1) Pengetahuan
(pondok pesantren)
2) Jenis Kelamin
(alamiah).
3) Umur (alamiah).
4) Kekayaan.
5) Kedekatan
wilayah tempat tinggal dengan elit lokal.
Diferensiasi
Sosial
Penjelasan lebih lanjut mengenai diferensiasi
sosial yang kami temukan di Kampung Cikadongdong adalah sebagai berikut:
1) Jenis Kelamin:
di Kampung Cikadongdong laki-laki dipandang lebih bisa untuk menjadi pemimpin
dibandingkan perempuan, karena menurut pandangan mereka kaum pria mempunyai
figur yang lebih kuat untuk bisa dijadikan seorang pemimpin dalam membimbing
kaum wanita dan anak-anak di kesehariannya, juga selain itu masyarakat Kampung
Cikadongdong berusaha untuk menerapkan apa yang terkandung dalam ajaran Islam,
bahwa kaum pria lebih kuat dibandingkan kaum wanita. Contohnya bisa menjadi
imam masjid sedangkan perempuan yang dipimpin atau dengan kata lain jadi
makmumnya.
2) Umur: di
Kampung Cikadongdong orang yang lebih tua akan lebih dihormati oleh masyarakat
setempat karena mereka menggolongkan orang yang dianggap lebih tua itu kepada
kaum sesepuh yang patut untuk banyak didengarkan nasihat-nasihat dari mereka.
Contohnya dalam kerja bakti orang tua yang mengatur pekerjaan anak mudanya.
3) Pengetahuan:
orang yang mempunyai pengetahuan ilmu agama yang lebih mapan akan lebih
dipercaya untuk memimpin kegiatan yang bersifat religius sehingga mereka bisa
menyalurkan ilmu agama yang mereka miliki kepada masyarakat Kampung
Cikadongdong. Contohnya lulusan pesantren lebih dipercaya untuk menjadi imam di
masjid.
4) Kekayaan:
kepemilikan seseorang terhadap sumber daya yang berkaitan dengan hal kekayaan
yang dimiliki oleh beberapa orang di kampung tersebut, dapat membantu warga
setempat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, sehingga pada
kenyataannya warga tidak begitu kesulitan dalam mencukupi kebutuhannya baik
primer maupun yang sekunder. Contohnya banyak warga yang membeli kebutuhan
hidupnya di warung-warung terdekat.
5) Kedekatan
wilayah: orang-orang yang tinggal dekat dengan kepala RT dan tokoh masyarakat
lainnya dapat membantu dalam penyebaran informasi tentang suatu hal, sehingga
informasi tersebut dapat mencapai tujuan yaitu kepada penduduk yang lain dengan
lebih cepat tersebar secara merata.
Ketidaksamaan
Sosial
Ketidaksamaan sosial yang terdapat di Kampung
Cikadongdong antara lain:
1) Jenis kelamin:
karena laki-laki lebih sering shalat di masjid dibandingkan perempuan maka
laki-laki lebih cepat menerima informasi-informasi penting yang disampaikan di
masjid, baik disampaikan secara langsung (dari mimbar masjid) oleh kyai maupun
dari interaksinya dengan orang lain ketika berada di lingkungan masjid.
2) Umur: orang
yang lebih tua umumnya akan mendapat pengetahuan lebih cepat dari anak muda
karena mereka biasa menganggap suatu hal yang baru lebih serius daripada anak
muda yang masih menganggap hal seperti itu sebagai hal yang kurang begitu
penting bagi mereka dengan tidak memikirkan apa dampak yang akan terjadi bagi
mereka.
3) Pengetahuan:
orang yang memiliki pengetahuan agama yang lebih mapan akan lebih cepat dalam
mengambil tindakan tentang suatu hal yang berkaitan dengan masalah agama yang
terjadi di Kampung Cikadongdong daripada orang yang tidak memiliki pengetahuan
agama, karena mereka akan lebih cenderung untuk hanya mengikuti dalam
penyeselaian masalah tersebut.
4) Kekayaan: orang
yang memiliki modal untuk berwirausaha atau harta akan lebih mudah mengakses
sumber daya dibandingkan orang yang tidak memiliki apa-apa karena intensitas
mereka yang lebih banyak untuk bertemu dengan orang-orang yang berada di
lapisan manapun.
5) Kedekatan
wilayah: orang yang bertempat tinggal dekat ketua RT atau tokoh masyarakat akan
lebih cepat memperoleh informasi daripada yang tinggal lebih jauh dan bisa
turut berperan sebagai penyebar informasi yang ada kepada masyarakat yang
lainnya.
Dasar-Dasar Terjadinya Stratifikasi Sosial di
Kampung Cikadongdong
Dasar
Kekayaan
Suatu masyarakat yang memiliki kekayaan cukup
banyak dapat dikategorikan termasuk orang yang cukup terpandang oleh
sekitarnya. Ukuran kekayaan itu dapat dilihat dari kepemilikan tanah, mobil
pribadi dan sebagainya. Namun, pada penelitian yang kami lakukan di Kampung
Cikadongdong tidak ditemukan ukuran kekayaan yang seperti disebutkan di atas.
Untuk masyarakat yang terpandang karena kekayaan, ukuran kekayaannya dapat
dilihat dari kepemilikan mereka terhadap luas lahan perrawahan, ternak kambing
maupun kerbau, pendapatan dari usaha sendiri seperti toko. Sebagai contoh yang
kami temukan di lapangan yaitu Bapak Shidiq yang memiliki sebidang lahan sawah
dan ternak kerbau sendiri. Kadang-kadang kerbau beliau ini disewakan untuk
kepentingan persawahan. Selain itu, ada juga bapak Uci yang memiliki usaha
sendiri yaitu toko.
Dasar Kekuasaan
Di Kampung Cikadongdong, masyarakat yang
memiliki kekuasaan dalam politik lokal setempat atau yang mempunyai wewenang
besar dalam memutuskan suatu perkara mengenai masyarakat akan lebih dihormati
keberadaannya. Sebagai contoh yang kami temukan di lapangan adalah Pak Mukhlis
dalam hal ini beliau menjabat sebagai Ketua RT dan Pak Harun. Oleh karena
keberadaan mereka sangat berarti dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat,
maka kekuasaan ini dapat dijadikan modal penting untuk mengatur kehidupan antar
warga Kampung Cikadongdong.
Dasar
Kehormatan
Pada umumnya orang yang paling dihormati oleh
masyarakat Kampung Cikadongdong adalah orang-orang yang termasuk ke dalam
golongan tua, karena anggapan masyarakat setempat mereka mempunyai pengalaman
hidup yang lebih banyak dibandingkan dengan kaum yang masih muda dan juga
mereka beranggapan bahwa orang yang termasuk ke dalam golongna tua itu di dalam
riwayat hidupnya pernah berjasa terhadap keberadaan Kampung Cikadongdong.
Sebagai contoh dalam hal ini adalah Ibu Asni, beliau termasuk salah satu warga
yang dihormati dan disegani karena dengan melihat usianya belhau dianggap
sebagai orang yang dituakan oleh masyarakat setempat. Mengingat masih
berlakunya sebuah norma, bahwa orang yang lebih muda harus menghormati orang
yang lebih tua.
Dasar
Pengetahuan
Di Kampung Cikadongdong, masyarakat menempatkan
orang yang memiliki pengetahuan agama tinggi sebagai orang yang paling
dihormati. Hal ini disebabkan karena keadaan religius masyarakat setempat yang
sangat kuat dengan dibuktikan seluruh penduduk Kampung Cikadongdong memeluk
agama Islam. Sebagai contohnya Bapak Haji Ujang, beliau adalah seorang lulusan
pesantren dan juga selain itu beliau mengajar ngaji dari anak-anak kecil di
kampung tersebut. Bahkan tidak hanya anak kecil, beliau juga sering memberi
nasihat kepada para ibu-ibu mengenai kehidupan berumah tangga ketika
diadakannya pengajian untuk ibu-ibu. Selain Pak Haji Ujang ada pula Ibu Hj.
Masrini, sama halnya dengan Pak Haji Ujang beliau juga sering memberikan
nasihat kepada ibu-ibu setempat dalam pengajian.
Startifikasi Sosial Dalam Dinamika Sosial
Dinamika
Ekonomi
Ada beberapa kaum pemuda Kampung Cikadongdong
yang merasa dirinya kurang bisa memenuhi kebutuhan kehidupannya di dalam bidang
ekonomi, sehingga kaum pemuda tersebut memilih jalan untuk melakukan migrasi ke
kota yang biasa dikenal dengan urbanisasi. Harapan yang dihasilkan dari migrasi
ke kota itu adalah mereka bisa mendapatkan penghasilan yang cukup atau lebih
dibandingkan penghasilan mereka yang ada di desa, sehingga adanya migrasi dapat
berpengaruh besar terhadap perubahan dinamika ekonomi di Kampung Cikadongdong.
Dinamika
Religi-Kultural
Masuknya budaya kota yang dianggap ”lebih”
daripada budaya kehidupan pedesaan seperti lifestyle atau gaya hidup yang
berlebihan dari model busana sampai teknologi ternyata tetap tidak mempengaruhi
Religi-Kultural Kampung cikadongdong, karena sebagian besar dari mereka tetap
berpegang teguh terhadap nilai agama dan budaya yang sangat kuat yaitu Islam.
Meskipun dalam kenyataannya ada juga para pemuda kampung tersebut yang
mengikuti gaya hidup perkotaan, namun secara keseluruhan nilai-nilai Dinamika
Religi-Kultural di Kampung Cikadongdong tidak banyak berubah.
Dinamika
Politik
Kancah dunia perpolitikan yang terjadi di
Indonesia dengan sistem multi partai yaitu 36 partai, ternyata tidak mempunyai
pengaruh besar terhadap dinamika perpolitikan lokal Kampung Cikadongdong.
Walaupun keadaan nyata yang terjadi di luar adalah Partai Golkar sebagai
pemenang dalam Pemilu, tetapi masyarakat Kampung Cikadongdong tetap teguh
terhadap pilihan mereka, yaitu mayoritas mereka memilih Partai Persatuan
Pembangunan sebagai pilihan mereka. Hal ini disebabkan selain partai tersebut
dilambangkan Ka’bah sebagai tolok ukur utama tentang Islam, tetapi juga disebabkan
karena sebagian besar dari mereka memilih dengan mengikuti pilihan dari tokoh
masyarakat yang dianggap disegani oleh warga setempat karena pengaruh dari
tokoh masyarakat di bidang religi tersebut yang sangat kuat, sehingga
masyarakat lebih memilih untuk mengikuti pilihan dari tokoh masyarakat yang
ada.